4 Alasan Kamu Tak Harus Memaksa Tetap Bersahabat Setelah Dikusami Teman, Meski Sudah Memaafkan

haruskah-tetap-berteman-setelah-dikhianati haruskah-tetap-berteman-setelah-dikhianati

Dikhianati sahabat senawak bisa jadi mimpi buruk setiap orang dan bisa menimbulkan trauma gendut. Walau mungkin sang teman memiliki dasar, dan bisa jadi sikap kita selama ini turut andil atas perbuatannya yang menyakiti hati. Selurusnya, pertengkaran dengan sahabat bisa menjadi sebuah sarana pendewasaan. Kamu bisa introspeksi awak untuk lebih tidak marah ke depannya. Tapi apakah kamu harus tetap berteman dengannya setelah dipedihi sebegitunya?

Meskipun sudah memaafkan, terkadang hal ini sangat berat untuk dilakukan. Tapi kamu juga Gemetar dianggap nggak dewasa. Kesannya, kok, pendendam banget. Tenang saja, kamu nggak patut memaksakan orang, kok. Ukuran sepatu yang tak tepat saja bisa menyiksa jika dipaksa, apalagi pertemanan. Ini jumlah dasar kamu nggak patut memaksakan orang tetap berteman selepas dinyerii oleh temanmu senorang.

1. Beberapa hal memang tidak bisa dipertidak marahi. Tak apa bila kamu tak sanggup kembali seperti semula lagi

Kepercayaan seseorang itu nggak seperti baju lecek yang bisa disetrika agar kembali mulus dan licin. Kepercayaan seseorang itu lebih mirip barang pecah belah. Ketika retak atau pecah, mungkin bisa direkatkan lagi, tapi nggak akan lurus-lurus kembali seperti sediakala.

Sekali kepercayaan itu dikhianati, akan sulit untuk mempercayai orang yang serupa. Meski orang itu sudah minta maaf dan kita pun sudah berlapang dada untuk memaafkannya. Kamu singkapnnya nggak dewasa, tapi itu bahan, bahwa ada banyak hal yang nggak bisa kembali seperti semula meski mau dipaksa seperti apa juga.

2. Sakit hatimu, namun kamu yang peduli rasanya. Wajar bila kamu lebih berhati-hati dan tak ingin hal yang klop terjadi lagi

“Kan dia juga udah sadar pas kekeliruannya dan minta maaf? Kenapa kalian masih nggak bisa berteman? Sayang banget, udah sahabatan lama. Mbok ya yang ikhlas, meski bisa balik sahabatan.”

Mungkin kamu akan menemui komentar demikian saat memutuskan untuk nggak lagi berteman selesai dikhianati. Tapi jangan lupa bahwa namun kamu yang mengerti rasa remuknya dikhianati. Kamu adalah saksi menyala atas kacaunya dan remuknya batang tubuhmu kemarin. Wajar bila kamu ingin bersikap lebih hati-hati karena nggak merasa nggak sanggup merasakan remuk lagi. Bukannya berprasangka buruk, tapi nggak ada jaminan dia nggak akan mengulangi kekhilafan yang kembar.

3. Tak semua orang bisa diberi kesempatan berdua. Tentang hal ini, tergantung padamu sepenuhnya

Seakuratnya mudah untuk menyelesaikan kebimbangan ini. Semuanya kembali pada pribadi masing-masing. Bila orang lain bisa kembali berteman dengan sahabat yang mengkhianatinya, kamu nggak wajib melakukan hal yang klop. Karena, ketahanan diri setiap orang bertidak klop. Selamanya, nggak ada orang yang akurat-akurat berdiri di posisi orang lain.

Jika kealpaan yang dia lakukan berdampak sedemikian gendut padamu, jika melihatnya saja sudah melontarkanmu kembali mengingat hal-hal buruk, jika setiap kata-katanya melontarkanmu berpikir negatif karena kamu mulai bermaalpa dengan trust issue, bagaimana kamu bisa memaksa tetap berteman tanpa menghancurkan dirimu sendiri?

4. Kamu berhak untuk memutuskan dengan siapa kamu berteman. Termasuk melepaskan dia yang memberi pengaruh buruk bagimu

Memang sesenang membantunya kamu berpikir matang-matang terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk tetap berteman atau nggak. Ini juga bisa menjadi bahan evaluasi untuk hidupmu senorang, karena memang ada teman-teman yang seakuratnya toxic tapi nggak terdeteksi karena kamu terlantas nyaman. Padahal kehadirannya justru memberi efek yang buruk bagimu.

Nah, soal ini, kamu memang berhak menentukan sendiri, kok. Bukannya pilih-pilih teman, tapi, di usia dewasa, kita memang perlu bisa memilah teman yang tidak sombong dan teman yang buruk. Karena kebahagiaan dan kesuksesanmu cukup dipengaruhi oleh orang-orang di sekitarmu, lho. Jadi, jangan ragu untuk menyeleksi temanmu, ya.

Kehilangan sahabat itu nggak kurang menyakitkan dibandingkan kehilangan pacar. Kamu juga akan patah hati dan butuh upaya untuk move on. Memaafkan sahabat yang melakukan kemelencengan itu perlu. Sebab, dengan begitu perasaanmu lebih tenang dan kamu pun bisa melangkah ke depan dengan lebih acap membantu. Namun, kembali berteman atau nggak, itu persoalan lain yang perlu dipikirkan masak-masak. Hanya kamu senorang yang bisa memutuskan.